Selasa, 08 Desember 2009

All About Cerpen 2

Pengertian Cerpen

Cerpen adalah suatu cerita yang menceritakan sebagian kecil kehidupan manusia yang berkesan.

Ciri-ciri cerpen

§ Menggunakan alur tunggal.

§ Bahasanya mudah dipahami.

§ Masalah yang dipaparkan tidak terlalu kompleks.

§ Pelaku atau tokoh dalam cerita tidak terlalu banyak.

§ Terdapat konflik atau degrasi, tetapi tidak mengubah nasib pelaku.

A. Unsur-Unsur dalam Cerpen

1. Unsur Intrinsik.

Unsur intrinsik adalah unsur yang terdapat di dalam karya sastra yang membangun karya sastra itu sendiri.

Unsur Intrinsik dalam cerpen, meliputi:

a. Tema

Tema adalah persoalan pokok yang menjadi bahan utama suatu cerita.

Tema akan dapat dipahami oleh pembaca, jika ia membaca keseluruhan cerita dan menyimpulkannya.

Cara menentukan tema, antara lain:

1) Melalui alur

Dapat dilakukan dengan menelusuri peristiwa demi peristiwa dan hubungan sebab akibat dari peristiwa yang dialami tokoh.

2) Melalui pengamatan tokoh

Dapat dilihat dari tingkah laku tokoh, sehingga dapat dilukiskan bagaimana si tokoh menghadapi permasalahan.

3) Melalui pernyataan bahasa

Misalnya, dari ucapan tokoh-tokoh dalam cerita dapat diketahui masalah yang disampaikan pengarang.

b. Alur / Plot

· Alur adalah rangkaian kejadian yang dialami oleh para pelaku sehingga menjadi sebuah cerita.

· Alur terdiri dari beberapa tahapan, yaitu:

1) Tahapan Permulaan

Pengarang memperkanalkan tokoh-tokohnya, menjelaskan tempat peristiwa itu terjadi, memperkenalkan kemungkinan peristiwa yang akan terjadi, dan sebagainya.

2) Tahapan Pertikaian

a) Tahapan ini dimulai dari tahapan inciting force. Dalam tahapan ini muncul kekuatan, kehendak, kemauan, sikap, pandangan, dan sebagainya yang saling bertentangan antar para tokoh dalam cerita.

b) Tahapan rising-action. Dalam tahapan ini, terlihat suasana emosional yang semakin panas karena para tokoh mulai terlibat konflik. Konflik terdiri dari 4 jenis, yaitu:

i. Konflik manusia melawan alam

Misalnya : Pertempuran nelayan dengan amukan gelombang yang keras yang akan menenggelamkan perahu layarnya.

ii. Konflik manusia melawan manusia

Misalnya: Peperangan, perkelahian, pertengkaran, persaingan, perebutan kedudukan.

iii. Konflik batin

Misalnya: Pergumulan antara kekuatan keberanian dan ketakutan, kejujuran dan kecurangan.

iv. Konflik manusia dengan Tuhan

Misalnya: Manusia meninggalkan Tuhannya.

3) Tahapan Perumitan

Suasana semakin panas karena konflik semakin mendekati puncaknya. Gambaran nasib terhadap tokoh dalam cerita semakin tampak jelas.

4) Tahapan Puncak / Klimaks

Tahapan ini merupakan tahapan di mana konflik itu mencapai titik optimal. Dalam tahapan ini nasib para tokoh ditentukan dan tahapan inilah yang berfungsi sebagai pengubah nasib para tokoh.

5) Tahapan Peleraian

Dalam tahapan ini, kadar konflik mulai berkurang dan menurun yang mengakibatkan ketegangan emosional ikut menyusut dan berusaha kembali pada keadaan yang wajar seperti sebelum konflik-konflik bermunculan.

6) Tahapan Akhir

Tahapan ini merupakan ketentuan final dari segala konflik yang disajikan dan merupakan kesimpulan dari segala macam masalah yang dipaparkan. Akhir cerita yang membahagiakan disebut denouement, sedangkan akhir cerita yang menyedihkan disebut dengan catastrophe. Adapun akhir cerita yang bersifat terbuka karena pembaca sendiri yang disuruh menyelesaikan cerita itu dengan imajinasinya disebut solution.

c. Latar / Setting

Latar adalah tempat, suasana, waktu terjadinya suatu peristiwa. Latar diciptakan untuk membangun suasana tertentu yang dapat menggerakkan perasaan dan emosi pembaca.

d. Sudut Pandang

Sudut pandang adalah cara pengarang menempatkan atau memperlakukan dirinya dalam cerita yang ditulisnya.

Sudut pandang dapat dibedakan menjadi 2 pola utama, yaitu :

1) Pola orang pertama

Dalam pola ini penulis terlibat dalam cerita yang dikarangnya. Dapat dikategorikan menjadi 3 macam, yaitu :

i) Pengarang sebagai tokoh utama.

Pengarang mengisahkan peristiwa yang dialaminya baik fiktif maupun riil.

ii) Pengarang sebagai pengamat tidak langsung.

Pengarang terlibat dalam keseluruhan peristiwa, tetapi hanya sebagai pengamat semata.

iii) Pengarang sebagai pengamat langsung

Pengarang terlibat secara penuh dalam peristiwa pada cerita yang dikarangnya bahkan ia ikut menentukan perkembangan peristiwa meskipun ia bukan tokoh utama.

2) Pola orang ketiga

Dalam pola ini, pengarang tidak terlibat dalam peristiwa yang terjadi pada cerita. Dalam pola ini, pengarang dapat diibaratkan sebagai dalang, orang yang bercerita tanpa harus terlibat dengan peristiwa yang dialami tokoh-tokoh yang diceritakan.

Pola ini dibedakan menjadi 2 tipe, yaitu :

i) Sudut Pandang Serba Tahu

Dalam tipe ini, pengarang mengetahui semua watak, keadaan, sikap hidup, dan sebagainya dari semua tokoh dalam cerita yang dikarangnya dan juga tahu tentang nasib yang dialami tokoh-tokoh itu.

ii) Sudut Pandang Terarah

Dalam tipe ini, pengarang tidak menguraikan seluruh keadaan tokoh yang ada, tetapi memusatkan diri pada satu tokoh saja yang mempunyai hubungan erat dengan perkembangan, alur, atau rangkaian kejadian.

e. Perwatakan

Perwatakan merupakan sifat tokoh yang ada dalam cerita. Dapat dibagi menjadi 3, yaitu :

1) Tokoh protagonis

Adalah tokoh yang dikenai permasalahan. Biasanya berkarakter positif.

2) Tokoh antagonis

Adalah tokoh yang membuat permasalahan. Biasanya berkarakter negatif.

3) Tokoh tritagonis

Adalah tokoh yang bersifat netral dan menjadi pelerai atau penengah.

f. Penokohan

Penokohan adalah cara pengarang melukiskan tokoh-tokoh dalam cerita yang ditulisnya. Biasanya berupa fisik, pembawaan atau postur tubuh.

g. Gaya bahasa

Gaya bahasa yaitu pemilihan kata yang digunakan oleh pengarang untuk menyajikan cerita.

h. Majas

Majas adalah pemanfaatan kekayaan bahasa, pemakaian ragam tertentu untuk memperoleh efek-efek tertentu, keseluruhan ciri bahasa sekelompok penulis sastra dan cara khas dalam menyampaikan pikiran dan perasaan, baik secara lisan maupun tertulis

i. Amanat

Amanat adalah pesan yang ingin disampaikan pengarang kepada pembaca.

2. Unsur Ekstrinsik

Unsur ekstrinsik adalah unsur yang mendukung suatu karya sastra dari luar, yaitu :

a. Nilai budaya adalah suatu adat istiadat yang menjadi suatu kebiasaan dan sukar diubah.

b. Nilai agama adalah nilai-nilai yang berhubungan dengan prinsip kepercayaan kepada Tuhan dengan ajaran kebaktian dan kewajiban yang berhubungan dengan kepercayaan tersebut.

c. Nilai moral adalah ajaran baik buruk yang diterima umum mengenai perbuatan , sikap, kewajiban, akhlak, dan budi pekerti.

d. Nilai sosial adalah sesuatu yang berhubungan dengan masyarakat. Misalnya suka menolong, mengutamakan kepentingan umum dan bersikap dermawan.

B. Pola Pengembangan Deskripsi


Paragraf deskripsi adalah jenis paragraf yang menggambarkan sesuatu dengan jelas dan terperinci. Paragraf deskrispi bertujuan melukiskan atau memberikan gambaran terhadap sesuatu dengan sejelas-jelasnya sehingga pembaca seolah-olah dapat melihat, mendengar, membaca, atau merasakan hal yang dideskripsikan. Pola pengembangan paragraf deskripsi, antara lain, meliputi pola pengembangan spansial dan pola sudut pandang.

a. Pola spansial


Pola spansial adalah pola pengembangan paragraf yang didasarkan atas ruang dan waktu. Dengan teratur, penulis menggambarkan suatu ruangan dari kiri ke kanan, dari timur ke barat, dari bawah ke atas, dari depan ke belakang, dan sebagainya. Uraian tentang kepadatan penduduk suatu daerah dapat dikemukakan dengan landasan urutan geografi (misalnya: dari barat ke timur atau dari utara ke selatan); deskripsi mengenai sebuah gedung bertingkat dapat dilakukan dari tingkat pertama berturut-turut hingga tingkat terakhir, penggambaran terhadap suasana suatu lingkungan dapat dilakukan mulai dari siang, sore, hingga malam hari.


Contoh:
Pada malam hari, pemandangan rumah terlihat begitu eksotis. Apalagi dengan cahaya lampu yang memantul dari seluruh penjuru rumah. Dari luar bangunan ini tampak indah, mampu meberikan pancaran hangat bagi siapa saja yang memandangnya. Lampu-lampu taman yang bersinar menambah kesan eksotis yang telah ada. Begitu hangat. Begitu indah.

b. Pola sudut pandang.


Pola sudut pandang adalah pola pengembangan paragraf yang didasarkan tempat atau posisi seorang penulis dalam melihat sesuatu. Pola sudut pandang tidak sama dengan pola spasia. Dalam pola ini penggambaran berpatokan pada posisi atau keberadaan penulis terhadap objek yang digambarkannya itu. Untuk menggambarkan sesuatu tempat atau keadaan, pertama-tama penulis mengambil sebuah posisi tertentu. Kemudian, secara perlahan-lahan dan berurutan, ia menggambarkan benda demi benda yang terdapat dalam tempat itu, yakni mulai dari yang terdekat kepada yang terjauh.


Contoh:
Sekarang hanya beberapa langkah lagi jaraknya mereka dari tebing diatas jalan. Medasing menegakkan dirinya sambil mengasai kemuka dan ia pun berdiri tiada bergerak sebagai pohon diantara pohon-pohon yang lain. Oleh isyarat yang lebih terang dari perkataan itu maju sekian temannya sejajar dengan dia.


Di antara daun kayu tapak kepada mereka tebing tu turun ke bawah; dikakinya tegak pondok, sunyi-mati, tak sedikit jua pun kentara, bahwa dia melindungi manusia yang hidup, pandai bergerak dan bersuara. Di bawahnya kedengaran sebentar-bentar sepi mendengaus dan bintang-bintang itupun kelihatan kekabur-kaburan dalam sinar bara yang kusam. Dari celah-celah dinding pondok keluaran cahaya yang kuning merah, tetapi tiada berupa jauh sinar yang halus itu lenyap dibalut oleh kelam yang maha kuasa. Dikelilingi pondok itu tertegak pedati, ketiganya sunyi dan sepi pula.

C. Kalimat Tidak Bersubjek.

1. Di Jakarta akan mengadakan pameran pembangunan selama bulan Agustus tahun ini.

2. Pada bacaan anak-anak harus memberikan contoh atau teladan yang baik.

Kalimat 1 dan 2 tersebut merupakan kalimat tidak bersubjek. Hal itu disebabkan di depan kata Jakarta dan di depan bacaan anak-anak terdapat kata depan di (1) dan pada (2) sehingga kata-kata tersebut berubah fungsi menjadi keterangan tempat. Oleh karena itu, kalimat-kalimat tersebut tergolong kalimat yang tidak baku. Seharusnya kata depan di dan pada itu dihilangkan.

1 komentar: